Empat Jembul Diarak, Tulakan Rayakan Sedekah Bumi dengan Penuh Syukur

JEPARA – Empat jembul diarak dalam ritual sedekah bumi Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Senin (20/4/2026). Prosesi ini mengangkat sumpah Ratu Kalinyamat yang menjadi dasar tradisi tersebut.

Ritual dipusatkan di depan rumah petinggi desa, lalu kirab bergerak melintasi pedukuhan. Warga memadati jalur arak-arakan hingga prosesi berakhir.

Petinggi Tulakan Budi Sutrisno, menjelaskan tradisi ini berakar dari kisah pertapaan Ratu Kalinyamat di Donorojo. Ia bertapa setelah kehilangan suaminya, Sultan Hadlirin, yang tewas dalam konflik dengan Arya Penangsang.

Budi mengutip sumpah yang dikenal dalam tradisi lisan, “Ora pisan-pisan ingsun jengkar saka tapa ingsun, yen durung bisa nganggo keset jambule Arya Penangsang,” tuturnya.

Ia menambahkan, sumpah tersebut dimaknai sebagai simbol kesetiaan dan perjuangan menegakkan keadilan.

Makna sumpah itu, kemudian berkembang menjadi tradisi sedekah bumi. Warga menjadikannya sebagai ungkapan syukur sekaligus penghormatan terhadap sejarah desa.

Jembul terdiri dari dua jenis, yakni jembul lanang dan jembul wadon. Jembul lanang berisi hasil bumi dan jajanan, sedangkan jembul wadon membawa nasi dan lauk pauk.

Empat jembul mewakili tokoh setempat. Jembul Krajan menampilkan Sayyid Usman, dan Ngemplak menghadirkan Suto Mangun Jaya. Winong menggambarkan prajurit, sementara Drojo dan Pejing menampilkan Mbah Leseh.

Kirab ditutup dengan pengembalian jembul ke masing-masing dukuh. Warga mengikuti seluruh rangkaian sebagai bagian dari sedekah bumi.

Bupati Jepara Witiarso Utomo, melalui Kepala Dinsospermasdes Jepara Muh. Ali menyatakan dukungan terhadap kegiatan tersebut. Ia menilai tradisi ini berpotensi menarik lebih banyak pengunjung.

Kehadiran pengunjung, imbuhnya, membuka peluang bagi pedagang lokal. “Kegiatan ini dapat mendorong pergerakan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Tradisi Jembul Tulakan digelar setiap Senin Pahing pada bulan Apit dalam penanggalan Jawa. Sejak 2020, tradisi ini berstatus Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. (DiskominfoJepara/AP)

error: Content is protected !!