Gelar Doa Bersama saat Malam Tirakatan, Bupati Jepara : Waspadai Perpecahan Melalui Media Sosial

JEPARA – Malam tirakatan menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia merupakan tradisi yang sarat makna. Biasanya digelar pada malam 16 Agustus. Di berbagai daerah, terutama Jawa, tirakatan diisi doa bersama, mengheningkan cipta, pembacaan sejarah perjuangan, pemotongan tumpeng, makan bersama, hingga kegiatan sosial.

Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Jepara, menggelar doa bersama dalam rangka malam tirakatan menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, di Pendapa Kartini, Minggu (16/8/2026).

Malam sakral tersebut menjadi momentum untuk mengenang sekaligus mendoakan para pahlawan dan pejuang yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan bangsa.

Acara diawali dengan Manaqib Qotmil Qur’an, dilanjutkan Tahlil dan doa bersama. Kemudian pemotongan tumpeng oleh Bupati Jepara H. Witiarso Utomo (Mas Wiwit) yang diserahkan kepada Kepala Kejaksaan Negeri Jepara, Agung Bagus Kade Kusimantara.

Mas Wiwit menyebut, malam tirakatan merupakan bentuk sinergi serta kolaborasi dalam membangun bangsa dan negara. Karena itu, menjaga persatuan dan mengisi kemerdekaan dengan karya terbaik serta bukti nyata menjadi tanggung kita jawab bersama.

Menurut Mas Wiwit, kita harus mewaspadai dua dunia, yaitu dunia nyata dan dunia maya. Masyarakat kembali diingatkan untuk tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang beredar di media sosial, terutama menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

“Dunia maya sangat berbahaya dan bisa menyerang hati kita semua ataupun yang diserang. Ini harus disikapi secara dewasa, dengan berita yang akhir-akhir ini yang sangat memprovokasi,”jelas Mas Wiwit.

Konten yang bersifat provokatif, potongan video tanpa konteks, hingga informasi lama yang kembali disebarluaskan seolah-olah merupakan peristiwa terbaru berpotensi menimbulkan keresahan. Masyarakat pun diminta lebih cermat sebelum memberikan komentar, meneruskan, atau membagikan sebuah informasi.

Karena itu, setiap pengguna media sosial memiliki peran penting dalam menjaga persatuan. Saring sebelum sharing, periksa sumber informasi, bandingkan dengan sumber resmi, dan jangan ikut menyebarkan konten yang belum terbukti kebenarannya.

“Melihat semangat masyarakat di saat memeriahkan semarak kemerdekan di bulan Agustus, tetapi masih ada dunia maya yang memecah belah. Mudah-mudahan kehadiran kita semua memberikan cermin dan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat,”terangnya.

Malam tirakatan menjadi pengingat, bahwa kemerdekaan yang dinikmati saat ini merupakan hasil perjuangan panjang. Kita harus bijak bermedia sosial. Jangan mudah terprovokasi, jangan menyebarkan hoaks, dan jangan biarkan media sosial menjadi pintu masuk perpecahan di tengah masyarakat. (Diskominfo Jepara/STY)

error: Content is protected !!