JEPARA – Pertama kali dalam sejarah seni ukir, putra-putri Aparatur Sipil Negara (ASN) dilingkungan Pemerintah Kabupaten Jepara secara khusus telah mengikuti Program Pelatihan Pelajar Mengukir.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Pelestari Ukir Jepara bersama Dharma Wanita Kabupaten Jepara pada hari Sabtu – Minggu 14-15 Februari 2026 di Jepara Wood Carving Gallery ini dibuka oleh Sekda Jepara Ary Bachtiar ditandai dengan penyerahan palu secara simbolis kepada peserta.
Hadir dalam acara ini Ketua Dharma Wanita Kabupaten Jepara Erna Ary Bachtiar, pembina Yayasan Peluk Indria Mustika dan pengurus yayasan Ali Afendi, Sutrisna, H. Maslim , Suyoto dan Sutarya yang menjadi instruktur utama. Sedangkan instruktur lain yang membimbing peserta adalah Muslikanto, Sutarno, Rumini, dan Sulistyani.
Sekda Ary Bachtiar saat membuka pelatihan mengungkapkan bahwa seni ukir mengalami persoalan yang cukup serius karena mulai ditinggalkan pewarisnya. Tidak banyak anak muda yang memiliki minat untuk menekuni seni ukir yang menjadi kekuatan utama budaya Jepara.
“Karena itu apa yang dilakukan oleh Yayasan Pelestari Ukir Jepara bersama Dharma Wanita Kabupaten Jepara adalah langkah yang baik untuk menanamkan minat dan rasa cinta putra – putri Jepara terhadap seni ukir. Harapan kami kegiatan pelatihan ini dapat terus dilakukan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan komitmen Bupati Jepara dalam mengembangkan pelestarian seni ukir agar tidak punah. Juga potensi khas Jepara yang lain seperti durian Petruk yang semakin hilang. “Kini Bapak Bupati ingin mengembangkan kembali Durian Petruk yang menjadi veritas khas durian Jepara,” ungkapnya.
Menurut Hadi Priyanto, pelatihan mengukir bagi putra – putri ASN ini akan diadakan dua kelompok yaitu tingkat SD-SMP dan SLTA, masing-masing selama 7 jam.
“Kegiatan yang didukung oleh Bupati Jepara ini merupakan bagian dari program Pelajar Mengukir yang merupakan salah satu program unggulan Yayasan Peluk Jepara. Ini adalah kelas pelajar mengukir angkatan ke 11 sejak galeri ini diresmikan oleh Bapak Bupati Jepara 6 November 2025,” ujar Hadi Priyanto.
Program pelajar mengukir ini dimaksudkan untuk mengenalkan seni ukir dikalangan pelajar. “Harapannya menanamkan kembali benih cinta seni ukir yang saat ini mulai ditinggalkan oleh para pewarisnya,” ujar Hadi.
Ini dilakukan sebab sekolah tidak lagi menjadi ruang belajar seni ukir karena kurikulum dan terbatasnya sarana dan prasarana yang dimiliki termasuk ketersediaan guru yang memiliki keterampilan seni ukir.

